Pesan Terbaik Bung Karno Untuk Generasi Muda : Jasmerah

Jasmerah  (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah) adalah bunyi salah satu semboyan yang dikumandangkan Ir. Soekarno yang harus dicamkan benar oleh para generasi muda Indonesia. Semboyan ini tentunya bukan sekedar omong kosong belaka. Denga mengetahui sejarah bangsanya maka seeorang dapat menghargai kehebatan dan jerih payah pendahulunya dalam membangun negeri ini dengan keringat darah.  Bila manusia benar mengahayati arti sejarah maka dapat membuat menciptakan semangat kebangsaan dan nasionalisme yang kuat yang dapat membabat habis benih-benih pepecahan bangsa.
Sejarah, baik yang berupa kesuksesan maupun kegagalan, dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi diri, dan juga motivasi. Ketika Soekarno mengumandangkan Jasmerah, Beliau sebenarnya ingin membangkitkan semangat perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda waktu itu. Ingatlah kejayaan Sriwijaya. Ingatlah kejayaan Majapahit. Ingatlah kejayaan Mataram. Bahwa Indonesia pernah menjadi bangsa yang dapat berdiri dengan gagah di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Sejarah, merupakan kekuatan dasyat yang tersembunyi dari seseorang atau bangsa. Bila orang atau bangsa tersebut mau dan mampu memahami dan belajar dari sejarah, maka mempunyai kekuatan yang dasyat yang dapat ia gunakan untuk menjalani kehidupannya di masa sekarang dan akan datang. Tak hanya menjalani, bahkan mempunyai visi kedepan. Tentu ia akan berfikir, kegagalan di masa lampau jangan sampai terulang di masa sekarang dan mendatang. Dan keberhasilan di masa lampau, harus mampu ia pertahankan dan dilipatgandakan di masa sekarang dan yang akan datang.

Sejarah

Sejarah, babad, hikayat, riwayat, atau tambo dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal-usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah. Adapun ilmu sejarah adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia. Pengetahuan sejarah meliputi pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis. Orang yang mengkhususkan diri mempelajari sejarah atau ahli sejarah disebut sejarawan. Kata sejarah secara harafiah berasal dari kata Arab (شجرة: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri, sejarah disebut tarikh (تاريخ ). Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah waktu atau penanggalan. Kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia yang berarti ilmu atau orang pandai. Kemudian dalam bahasa Inggris menjadi history, yang berarti masa lalu manusia. Kata lain yang mendekati acuan tersebut adalah Geschichte yang berarti sudah terjadi.

Dahulu, pembelajaran mengenai sejarah dikategorikan sebagai bagian dari ilmu budaya (humaniora). Akan tetapi, kini sejarah lebih sering dikategorikan ke dalam ilmu sosial, terutama bila menyangkut perunutan sejarah secara kronologis. Ilmu sejarah mempelajari berbagai kejadian yang berhubungan dengan kemanusiaan di masa lalu. Ilmu sejarah dapat dibagi menjadi kronologi, historiografi, genealogi, paleografi, dan kliometrik

Ahli sejarah mendapatkan informasi mengenai masa lampau dari berbagai sumber, seperti catatan yang ditulis atau dicetak, mata uang atau benda bersejarah lainnya, bangunan dan monumen, serta dari wawancara (yang sering disebut sebagai “sejarah penceritaan”, atau oral history dalam bahasa Inggris). Untuk sejarah modern, sumber-sumber utama informasi sejarah adalah: foto, gambar bergerak (misalnya: film layar lebar), audio, dan rekaman video. Tidak semua sumber-sumber ini dapat digunakan untuk penelitian sejarah, karena tergantung pada periodeyang hendak diteliti atau dipelajari. Penelitian sejarah juga bergantung pada historiografi, atau cara pandang sejarah, yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Ada banyak alasan mengapa orang menyimpan dan menjaga catatan sejarah, termasuk: alasan administratif (misalnya: keperluan sensus, catatan pajak, dan catatan perdagangan), alasan politis (guna memberi pujian atau kritik pada pemimpin negara, politikus, atau orang-orang penting), alasan keagamaan, kesenian, pencapaian olah raga (misalnya: rekor Olimpiade), catatan keturunan (genealogi), catatan pribadi (misalnya surat-menyurat), dan hiburan.

Namun dalam penulisan sejarah, sumber-sumber tersebut perlu dipilah-pilah. Metode ini disebut dengan kritik sumber. Kritik sumber dibagi menjadi dua macam, yaitu ekstern dan intern. Kritik ekstern adalah kritik yang pertama kali harus dilakukan oleh sejarawan saat dia menulis karyanya, terutama jika sumber sejarah tersebut berupa benda. Yakni dengan melihat validisasi bentuk fisik karya tersebut, mulai dari bentuk, warna dan apa saja yang dapat dilihat secara fisik. Sedang kritik intern adalah kritik yang dilihat dari isi sumber tersebut, apakah dapat dipertanggungjawabkan atau tidak. Wawancara juga dipakai sebagai sumber sejarah. Namun perlu pula sejarawan bertindak kritis baik dalam pemilahan narasumber sampai dengan translasi ke bentuk digital atau tulisan.

Belajar Dari Sejarah

Sejarah adalah topik ilmu pengetahuan yang sangat menarik. Tak hanya itu, sejarah juga mengajarkan hal-hal yang sangat penting, terutama mengenai: keberhasilan dan kegagalan dari para pemimpin kita, sistem perekonomian yang pernah ada, bentuk-bentuk pemerintahan, dan hal-hal penting lainnya dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Dari sejarah, kita dapat mempelajari apa saja yang mempengaruhi kemajuan dan kejatuhan sebuah negara atau sebuah peradaban. Kita juga dapat mempelajari latar belakang alasan kegiatan politik, pengaruh dari filsafat sosial, serta sudut pandang budaya dan teknologi yang bermacam-macam, sepanjang zaman.

Salah satu kutipan yang paling terkenal mengenai sejarah dan pentingnya kita belajar mengenai sejarah ditulis oleh seorang filsuf dari Spanyol, George Santayana. Katanya: “Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya.”

Filsuf dari Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel mengemukakan dalam pemikirannya tentang sejarah: “Inilah yang diajarkan oleh sejarah dan pengalaman: bahwa manusia dan pemerintahan tidak pernah belajar apa pun dari sejarah atau prinsip-prinsip yang didapat darinya.” Kalimat ini diulang kembali oleh negarawan dari Inggris Raya, Winston Churchill, katanya: “Satu-satunya hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak benar-benar belajar darinya.”

Winston Churchill, yang juga mantan jurnalis dan seorang penulis memoar yang berpengaruh, pernah pula berkata “Sejarah akan baik padaku, karena aku akan menulisnya.” Tetapi sepertinya, ia bukan secara literal merujuk pada karya tulisnya, tetapi sekadar mengulang sebuah kutipan mengenai filsafat sejarah yang terkenal: “Sejarah ditulis oleh sang pemenang.” Maksudnya, seringkali pemenang sebuah konflik kemanusiaan menjadi lebih berkuasa dari taklukannya. Oleh karena itu, ia lebih mampu untuk meninggalkan jejak sejarah — dan pemelesetan fakta sejarah — sesuai dengan apa yang mereka rasa benar.

Pandangan yang lain lagi menyatakan bahwa kekuatan sejarah sangatlah besar sehingga tidak mungkin dapat diubah oleh usaha manusia. Atau, walaupun mungkin ada yang dapat mengubah jalannya sejarah, orang-orang yang berkuasa biasanya terlalu dipusingkan oleh masalahnya sendiri sehingga gagal melihat gambaran secara keseluruhan.

Masih ada pandangan lain lagi yang menyatakan bahwa sejarah tidak pernah berulang, karena setiap kejadian sejarah adalah unik. Dalam hal ini, ada banyak faktor yang menyebabkan berlangsungnya suatu kejadian sejarah; tidak mungkin seluruh faktor ini muncul dan terulang lagi. Maka, pengetahuan yang telah dimiliki mengenai suatu kejadian di masa lampau tidak dapat secara sempurna diterapkan untuk kejadian di masa sekarang. Tetapi banyak yang menganggap bahwa pandangan ini tidak sepenuhnya benar, karena pelajaran sejarah tetap dapat dan harus diambil dari setiap kejadian sejarah. Apabila sebuah kesimpulan umum dapat dengan seksama diambil dari kejadian ini, maka kesimpulan ini dapat menjadi pelajaran yang penting. Misalnya: kinerja respon darurat bencana alam dapat terus dan harus ditingkatkan; walaupun setiap kejadian bencana alam memang, dengan sendirinya, unik.

http://korananakindonesia.wordpress.com/2010/08/16/pesan-terbaik-bung-karno-untuk-generasi-muda-jasmerah/

Fakta

Fakta Yang Belum Banyak Diketahui Seputar Proklamasi Indonesia

  • Revolusi dari kamar tidur. Bung Karno baru bangun pukul 09.00 setelah sebelumnya terkena serangan malaria di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.
    Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Pating greges, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr. Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. “Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya. masih meriang.
  • Hubungan antara Bung Karno dan Belanda tidaklah mesra. Tetapi Belanda pernah memberikan kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh Bung Karno. Enam hari menjelang Natal 1948, Belanda memberikan hadiah Natal di Minggu pagi, saat orang ingin pergi ke gereja, berupa bom yang menghancurkan atap dapurnya. Hari itu, 19 Desember 1948, ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.
  • Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nantikan selama lebih dari tiga ratus tahun!
  • Seprei dan Tukang Soto. Bendera Merah Putih terbuat dari kain sprei dan kain tukang soto!  Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!
  • Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli Indonesia. Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960.

  • Perintah Presiden pertama panggil tukang sate! Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate! Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki). “Sate ayam lima puluh tusuk!”, perintah Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.
  • Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong, Bung Karno mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah menjalani pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung Karno justru tidak membicarakan strategis perjuangan menentang penjajahan. Masalah yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas! “Potongan jasmu bagus sekali!” komentar Bung Karno pertama kali tentang jas double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto, yang menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh nasionalis.
  • Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang.
  • Teks Proklamasi di Keranjang Sampah. Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan B. M. Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

  • Proklamator di balik layar. Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya “lebih dari dua” proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl. Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat din hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal: Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. “Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.
  • Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama “Abdullah, co-pilot”. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa “Abdullah” itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. “You are a liar!” ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehr
  • Dokumentasi Proklamasi selamat berkat bohong. Peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita karena satu kebohongan. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?
  • Hari kelahiran dan kematian. Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.
  • Hubungan antara revolusi Indonesia dan Hollywood, memang dekat. Setiap 1 Juni, selalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila semasa Presiden Soekarno. Pada 1956, peristiwa tersebut “hampir secara kebetulan” dirayakan di sebuah hotel Hollywood. Bung Karno saat itu mengundang aktris legendaris Marylin Monroe, untuk sebuah makan malam di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian menjadi Presiden AS). Yang unik dari pesta menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan Marilyn dalam hal protokol. Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan “Mr President” atau “Your Excellency”, tetapi dengan Prince Soekarno!
  • Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, Tahun Vivere Perilocoso (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di Indonesia pada 1960-an. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!
  • Tidak ada jalan Sekarno Hatta di Jakarta. Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.
  • Gelar Resmi Proklamator baru 1986. Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.
  • Mentri asli Indonesia. Baru setelah merdeka 43 tahun Indonesia punya mentri yang 100% Indonesia asli. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. “Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).
  • Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.
  • Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.
  • Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya “lebih dari dua” proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl. Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat din hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal: Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. “Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.
  • Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI. Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda. Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru. Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun.
  • Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu kota sampai tiga dalam kurun waktu relatif singkat. Antara 1945 dan 1948, Indonesia memiliki 3 ibu kota, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi (1948-1949).
  • Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman, pada kenyatannya tidak pernah menduduki jabatan resmi di kabinet RI. Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan sekalipun!
  • Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang. Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu. Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp1 dan Rp2, 5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI

Dikutip dari :  http://korananakindonesia.wordpress.com/2010/08/16/fakta-yang-belum-banyak-diketahui-seputar-proklamasi-indonesia/

Peninggalan Kebudayaan Sejara

MODUL MATA PELAJARAN SEJARAH

KELAS XI SEMESTER I

PENINGGALAN KEBUDAYAAN ISLAM

Disusun guna memenuhi tugas individu mata kuliah

Perencanaan dan Pembelajaran Sejarah

Disusun oleh :

Mochamad Arief Hidayat

07406244045

PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010

Daftar isi

  1. Halaman Judul………………………………………….    1
  2. Daftar Isi………………………………………………..    2
  3. Bab   I Pendahuluan
    1. Pengantar………………………….   3
    2. Tujuan ……………………………    3
    3. Manfaat …………………………..    3
    4. Peta Konsep……………………….   4
  4. Bab   II Materi :Peninggalan-peninggalan  masa Islam
    1. Makam…………………………….   5
    2. Masjid……………………………..   7
    3. Kaligrafi…………………………..    9
      1. Seni Pahat…………………………                  10
    4. Upacara……………………………    11
    5. Seni Pertunjukan………………….    11
    6. Sastra………………………………   12
    7. Sistem Pemerintahan………………    13
    8. Sosial Masyarakat…………………   13
  1. Bab   III              Rangkuman……………………………. 15

Evaluasi

  1. Latihan Pilihan Ganda……………… 16
  2. Latihan Esai Singkat……………….. 22
  3. Latihan Esai Panjang………………  23
  4. Buku Acuan……………………………………………… 25
  5. Kunci Jawaban…………………………………….…….36

Standar kompetensi ; Perkembangan Agama Islam di Indonesia

Kompetensi dasar : Peninggalan kebudayaan Islam

Indicator: makam, masjid, kaligrafi, seni pahat, upacara, seni pertunjukan, sastra, system pemerintahan, social masyarakat.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Pengantar

Seperti halnya kebudayaan Hindu Budha, kebudayaan Islampun menimbulkan pengaruh yang besar.Masuknya pengaruh Islam jelas akan menambah khasanah budaya Indonesia. Oleh karena itu pengaruh agama Islam sulit untuk dihilangkan. Kebudayaan Islam menimbulkan pengaruh besar dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat mudah  menerima pengaruh tersebut. Akibatnya timbulah berbagai macam corak kehidupan sosial , ekonomi, politik, dan budaya. Berbagai kebudayaan yang dihasilkan beraneka ragam seperti sastra, pertunjukan, masjid, makam, kaligrafi, seni pahat, sosial kemasyarakatan,upacara dan sistem pemerintahan.

  1. Tujuan pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini maka siswa diharapkan dapat:

1. Mengetahui barbagai jenis kebudayaan hasil peninggalan masa  Islam.

2. Menjelaskan berbagai macam peninggalan kebudayaan masa  Islam.

3. Mendiskripsikan ciri-ciri kebudayaan Islam

4. Memberikan contoh hasil-hasil peninggalan kebudayaan Islam.

5. Menjelaskan perkembangan kebudayaan Indonesia dari Hindu-Budha ke Islam.

  1. Manfaat

Manfaat dari adanya pembelajaran terhadap peninggalan kebudayaan Islam adalah:

  1. Memahami dan menghargai peninggalan kebudayaan Indonesia.
    1. Menambah pengetahuan siswa mengenai perkembangan kebudayaan di Indonesia
    2. Meningkatkan kecintaan siswa terhadap kebudayaan Indonesia.

PETA KONSEP

BAB II

PENINGGALAN KEBUDAYAAN MASA ISLAM

  1. 1. makam

Bangunan makam Islam pada awalnya banyak bercorak Gujarat (India) misalnya batu nisan Sultan Malik Al- Saleh tahun 1297 ( raja Samodra Pasai ), batu nisan Maulana Malik Ibrahim 1419 di Gresik. Rupa-rupanya batu nisan tersebut diimport dari Gujarat dalam bentuk jadi. Batu nisan yang dikerjakam di Indonesia tidak lepas dari unsur candi misalnya batu nisan Majapahit berangka tahun 1376 saka (1457). Batu nisan tersebut seperti lengkungan kala makara, sedangkan hiasanya tidak memperlihatkan pengaruh Islam, angka tahun ditulis dengan huruf kawi. Demikian juga dengan batu nisan Sultan Hasanudin di Banten bercorak seperti itu. Kori Agung gerbang menuju makam Sunan Bonang di Tuban bentuknya seperti candi, demikian juga dengan makam Sunan Giri dekat Gresik dan Sunan Bayat di Klaten. Makam-makam para pembesar kerajaan dan istana akan dimakamkan bersama dengan para pembesar kerajaan dan kerabat-kerabat mereka. Makam merupakan kumpulan dari cangkup-cangkup dan jirat-jirat yang dikelompokan bersama dengan keluarga mereka. Gugusan ini dibagi dalam berbagai halaman-halaman yang yang dipisahkan oleh tembok-tembok tetapi dihubungkan dengan gapura-gapura sedangkan biasanya sebuah masjid menjadi   pelengkapnya ( masjid makam ).                

Pada umumnya pemakaman terletak di atas lereng sebuah bukit, tetapi banyak yang ditanah datar saja. Makam-makam halaman-halaman yang menjadi bagian-bagiannya tadi disusun berundak-undak pada lereng atau berurut ke belakang pada tanah yang datar. Pokok-pokok dari penyusunan demikian dapat kita kembalikan pada pundek berundak-undak dan susunan halaman candi dan pura dimana bagian yang paling yamg paling suci dan yang menjadi inti daripada gugusannya terletak paling atas atau paling belakang. Makam Maulana Malik Ibrahim dan makam –makam di Tralayo adalah contoh makam tidak bercangkup. Tetapi terdapat juga makam zaman purba yang bercangkup di Indonesia yaitu makan Fatimah Binti Maemoon di Leran Gresik ( tahun 1082 ) yang oleh rakyat terkenal sebagai makam Puteri Suwari atau Makam Putri Cempa. Namun keempat cangkupnya telah runtuh dan hanya tersisanya keempat dindingnya saja. Dinding-dinding ini diberikan hiasan baingkai-bingkai mendatar, sutau hal yang menunjukan adanya ikatan terhadap candi karena makam itu makam Islampun dimiripkan dengan juga dengan candi. Bentuk cangkup yang beratap runcing adalah yang dianggap paling tinggi atau paling suci, sedangkan yang berbentuk bubungan biasanya adalah yang mengatapi sebuah bangsal dimana terdapat banyak makam-makam berderet. Beberapa bentuk cangkup di luar Pulau Jawa berkembang cangkup kubang, yaitu yang berbentuk jirat lengkap dengan nisanya, kadang-kadang bersusun atau beralaskan bangunan yang berbentuk peti. Dengan demikian maka kubang adalah jirat semu karena jirat sesungguhnya berada di didalamnya. Cangkup jenis ini berkembang di daerah SulawesiSelatan.

Makam-makam di Indonesia banyak dikunjungi orang, apalagi kalau makanya dianggap keramat . Kunjungan makam dalam Agama Islam dikenal dengan nama ziarah. Di Indonesia ziarah itu dalam arti kunjungan kepada sesuatu makam ternyata sejalan dengan apa yang sudah ada terlebih dahulu, yaitu kebiasaan mengunjungi candi atau tempat suci lainya dengan maksud melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang. Maka ziarah juga dilakukan dengan melanjutkan tradisi lama, sehingga apa yang dilarang Agama Islam yaitu pemujaan sesuatu di samping Allah menjadi hal keseharian. Pemujaan lebih-lebih lagi ditujukan kepada seseorang yang dianggap mempunyai kedudukan lebih daripada manusia biasa, seperti raja, wali atau pemuka agama yang termasyur. Maka orang minta berkah misalnya selamat panjang umur, minta rezeki, tidak minta kepada Tuhan tetapi justru minta pada makam-makam.  Tradisi membakar kemenyan dan menaburkan bunga pada makam merupakan bentuk adanya keterkaitan antara pikiran orang Indoesia dengan pemujaan zaman dahulu, yaitu pemujaan pada candi. Maka tak sedikit banyak ziarah makam yang justru menyimpang dari ajaran Islam itu sendiri.

  1. 2. masjid

Unsur-unsur Hindu Budha dalam arsitektur Islam di Jawa khususnya dan pada pulau lain pada umumnya tidak terbatas pada batu nisan tetapi juga dalam bentuk masjid atau tempat-tempat ibadah Islam, misalnya mushola, langgar. Ruang masjid berbentuk pendopo, atap susun seperti pagoda  berbentuk candi Bentar , ukiran gaya Hindu-Jawa, menara berbentuk candi, hal ini mewujudkan penerapan tradisi Hindu Budha. Contoh menara masjid Kudus, kompleks Masjid Sendang Duwur ( Tuban ) Masjid Pajununan ( Cirebon ) Masjid Mantingan ( Jepara ) dan Masjid Agung Banten.

Secara dekoratif masjid-masjid tersebut mempunyai kekhasan tersendiri. Masjid Sendang Duwur dan Masjid Mantingan  sangat mencolok dekorasi Hindu Budhanya, ada kala makara, pohan hayat dan garuda. Masjid Banten lebih berkesan konstruktif Barat ( Belanda) dengan dekoratif menerapkan pengaruh  Cina dan hiasan piringan porselin. Bangunan seperti ini dapat ditemukan di Masjid Angke Jakarta. Terdapat juga menara, menara di beberapa Masjid di Indonesia memberikan ciri khusus bagi Indonesia contohnya adalah menara Masjid kudus dan Menara Masjid Banten yang memiliki ciri khas tersendiri. Menara masjid Kudus adalah bentuk menara yang berbentuk candi yang telah dirubah sedemikian rupa sehingga telah dirubah sesuai dengan fungsi-fungsinya. Bahkan Masjid Kudus juga memiliki beberapa pintu dimana menujukkan bahwa semakin ke dalam memiliki tempat yang semakin penting dan suci. Pintu masuk di Masjid Kudus terdapat 3 yaitu pintu gerbang pertama yang disebut berbentuk candi Bentar( tanpa atap tanpa pintu), pintu kedua  dan ketiga yang disebut dengan Kori Agung( beratap dan berpintu).Unsur lokal dalam dalam arsitektur masjid Indonesia kadang sangat menonjol . Masjid di Payakumbuh ( Sumatra Barat ) memakai atap bergonjong dan berkolong. Atap tumpang pada masjid  Jawa menentukan kuatnya pengaruh Hindu Budha. Atap tumpang selalu ganjil misalnya 1, 3, dan  5 dan berbentuk limas.  Bangunan masjid di daerah-daerah Indonesia banyak dipengaruhi oleh gaya arsitektur lokal. Menara Masjid, bangunan ini pada awalnya berkembang karena adanya anggapan bahwa azan dilakukan di tingkat teratas dari bangunan masjid itu. Setelah kedatangan para  imigran dari Arab, maka mulai mempengaruhi kehidupan masjid , maka dibangunlah menara yang menempel sendiri dari masjid. Pada zaman Islam masjid  yang juga dilengkapi dengan menara adalah Masjid Kudus yang menunjukan arsitektur gaya Jawa Tengah sedangkan Masjid Banten lebih menunjukan bentuk mencusuar, arsitektur barat ( Belanda ). Letak bangunan masjid pada zaman Islam ada dua kemungkinan, pertama di Ibu kota kerajaan di bangun di tepi Barat alun-alun Utara. Kedua dibangun di dekat tempat yang dikeramatkan misalnya raja, wali atau makam ahli agama yang termasyur.

Masjid biasanya dibangun sedekat mungkin dengan istana. Sebelah Utara atau Selatan istana terdapat tanah Lapang yang di Jawa desebut dengan Alun-alun. Tentunya pendirian tersebut memiliki maksud tertentu, kalau alun-alun adalah tempat dimana tempat bertemunya raja dengan rakyatnya , maka masjid adalah tempat dimana raja dan rakyatnya bertemu dengan Yang Maha Kuasa dan melakukan kewajibanya bersama-sama dengan sesama makhuk Tuhan. Beberapa masjid juga didirikan di makam orang-orang penting yaitu para wali atau tokoh agama. Penggambungan masjid dan makam tidak hanya terdapat di tempat-tempat suci akan tetapi juga di ibu kota-ibu kota kerajaan. Para raja biasanya juga telah menentukan akan dimakamkan dimana setelah mereka meninggal pada nantinya. Di dalam gugusan masjid makam, antara masjid dan makam, antara makam dan masjipun juga terdapat tembok dengan gapura-gapura untuk menghubungkanya. Gapura-gapura ini adalah gapura-gapura pada masa purba, tanpa sesuatu perubahan. Seperti terdapat pada masjid Kudus pada masjid makam juga terdapat Candi Bentar dan Kori Agung sebagai pintu masuknya.

Masjid-masjid lama yang didirikan oleh wali atau raja dapat dikategorikan sebagai masjid tradisional dengan ciri-ciri :

  • Bahan bangunan alami, artinya mempergunakan bahan-bahan yang terdapat disekitarnya.
  • Beratap tumpang, yaitu atap yang disusun bertingkat-tingkat. Hal tersebut dibuat pertimbangan iklim dan tehnis yaitu untuk menghindari kebocoran karena curah hujan yang tinggi dan memberi jarak udara masuk ketika iklim panas. Atap seperti sekarang masih terdapat di Bali dan disebut dengan meru dan digunakan khusus untuk mengatapi bangunan-bangunan yang tersuci dari sebuah pura. Atap tumpang juga disebutkan sebagai perkembngan dari dua unsur yaitu atap candi yang daerahnya bujur sangkar dan selalu bersusun ( berundak-undak ) dan puncak stupa yang ada kalanya berbentuk susunan payung-payung yang terbuka.
  • Memakai bedug dan kentongan untuk memberitahukan kepada masyarakat telah datangnya waktu shalat. Masjid tradisional pada mulanya belum menggunakan menara.
  • Masjid tradisional banyak yang merupakan masjid makam, yaitu masjid yang di belakang atau sampingnya terdapat makam.
  • Sedangkan struktur bangunan masjid tradisonal pada umumnya terdiri dari: lantai atap masjid, puncak masjid yang diberi mahkota, Mihrab yang menunjukan kiblat kearah Mekah, Mimbar yaitu tempat khotib memberi khotbah, Liwan yaitu depan mimbar tempat jemaah melakukan sahlat atau mendengarkan khotbah.
  • Tempat mengambil wudhu
  • Pendopo, bagian depan masjid tradisional dan tempat anak-anak belajarmengaji.
  1. 3. kaligrafi

Dalam ajaran Islam ada larangan untuk melukiskan( menggambarkan atau membuat patung )makhuk hidup,apalagi manusia terutama tempat-tempat ibadah. Hal tersebutsangat ditaati di Indonesia, akibatnya banyak seni patung yang telah berkembang pada zaman kuno tidak dapat dijumpai lagi pada masa pengaruh Islam, kecuali di Bali. Yang dinilai baik adalah tulisan Arab yang Indah yaitu kaligrafi, yang berisi ayat-ayat suci Al Quran dan  Al Hadist. Namun perkembangan kaligrafi masih belum begitu berkembang hal ini disebabkan oleh :

  • Ø Penggunaan seni kaligrafi di Indonesia sangat terbatas
  • Ø Bangunan-bangunan kuno pada permulaan berdirinya kerajaan Islam kurang memberi seni kaligrafi
  • Ø Keterbatasan orang yang berminat untuk mengembangkan karya seni kaligrafi
  1. 4. Seni pahat

Seni pahat atau seni ukir berkembang seiring dengan kaligrafi. Di dinding depan Masjid Mantingan, terdapat seni pahat yang sekilas merupakan pahatan tanaman( gaya arabek) tetapi apabila diteliti dengan seksama di dalamnya terdapat pahatan monyet. Di Cirebon merupakan pahatan harimau. Contoh lainya adanya gambaran makhuk hidup yang disamarkan(distilir) antara lain adalah pintu masjid Demak yang di sebut dengan Lawang Bledek dan pada masjid kudus yang disebut dengan Lawang kembar. Untuk seni hias ini pola-pola yang banyak diambil adalah dari zaman purba yang terutama sekali terdiri atas pola-pola daun-daunan , bunga-bugaan ( teratai ) bukit-bukit karang, pemandangan dan garis-garis geometri. Sering juga terdapatkan pola-pola kala makara dan kalamrga ( kepala kijang menjadi pengganti ,makaranya), gambar-gambar naga juga sering muncul. Begitu juga dengan tulisan Arab. Menurut salah satu hadis bahwa sebaiknya masjid sesederhana mungkin. Untuk menghiasnya hanya diperlukan beberapa tulisan yang berisi mengingat kepada Allah  dan Nabi serta seruan terhadap firman-firmanya. Pada akhirnya dimimbar masjid sajalah yang dihiasi dengan ukir-ukiran.  Masjid yang dihiasi ukir-ukiran adalah masjid Mantingan berupa gambar-gambar pigura yang ditempelkan ditembok-temboknya. Beberapa makam juga dihiasi dan biasanya yang diberi hiasan adalah jiratnya atau cangkupnya. Gapura-gapuara juga dihiasi dengan ukiran dan pahatan, antara lain adalah adanya hiasan-hiasan pada candi bentar Tembayat ( Klaten) yang diketahui bahwa yang mendirikan adalah Sultan Agung Mataram ( 1633) sedangkan sangat mewaha dalah hiasan pada gapuara Sendangduwur (Tuban) yang polanya terutama sekali berupa gunung-gunung karang. Puncak gapura berupa puncak gunung pula, didukung dengan sayap-sayap yang melebar melingkupi seluruh pintu gerbangnya. Corak dan pola-pola hiasan Sendangduwur itu banyak persamaanya dengan gapura-gapura di ujung Selatan pulau Bali yaitu Pura Ulu Watu dan Pura Sakenan.

  1. 5. Upacara

Gerebeg , upacara ini hanya dilakukan oleh Sultan/ Sunan. Apabila dilihat dari tinjauan perayaan dan waktunya merupakan budaya Islam, tetapi pemakaian gunungan serta iringan gamelan merupakan budaya sebelumnya. Kenduri oleh Sultan tersebut dikeramatkan oleh sebagian penduduk yang yakin bahwa barokahnya sangat besar. Hal ini menunjukan bahwa kepercayaan animisme-dinamisme masih ada dalam masyarakat. Hal ini diperkuat dengan bersamaan waktunya dilakukan upacara pembersihan barang-barang pusaka keraton seperti senjata dan kereta. Upacara demikian diselenggarakan di Cirebon bertempat di kerajaan kasepuhan dan Kanoman yang dikenal sebagai panjang jamat, di kasultanan Yogyakarta untuk meminta berkah

  1. 6. Seni pertunjukan

Di antara seni pertunjukan yang merupakan seni Islam adalah seni suara yang berisi sahalawat nabi dengan iringan rebana. Di Aceh terkenal dengan tarian seudati, dari kata syaidati yang berarti permainan orang-orang besar, tarian saman dimainkan 8 orang, penarinya menggunakan pakaian asli  Aceh diiringi irama dan lagu shalawat Nabi. Pertunjukan kesenian debus, pertunjukan ini dikenal oleh masyarakat Aceh, Minangkabau dan Jawa Barat yaitu Banten dan Priayangan. Pertunjukan ini diawali dengan nyanyian yang berisi shalawat Nabi dan puncaknya diwujudkan dalam pertunjukan yang sifatnya magis berupa tusukan pisau pada tubuh, memotong telinga lidah dan lainnya sebagainya dan akhirnya anggota tubuh dapat dikembalikan seperti sediakala.

Wayang termasuk hasil kebudayaan lama dan merupakan seni pertunjukan yang sudah mendarah daging dalam masyarakat. Oleh karena itu wayang dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengembangkan agama Islam melalui pertunjukannya. Ceritanya diambil dri tokoh-tokoh Islam yang mengembangkan agama Islam. Dalam ceritanya ada penyesuaian pengertian misalnya Ajimat Kalimasada menjadi kalimat Syahadat, Pandawa Lima diartikan lima Tiang Agama yang menjadi pedoman dalam melakukan ibadah. Dalam perkembangan kemudian diciptakan wayang golek yang ceritanya dan tokoh-tokoh mengambil dari kesustraan Islam.

  1. 7. Sastra

Di Indonesia perkembangan seni sastra pada awalnya berkembang di daerah sekitar Selat Malaka( Sekitar melayu ) dan Jawa. Seni sastra zaman Islam yang berkembang di Indonesia sebagian besar mendapat pengaruh dari Persia misalnya cerita tentang Amir Hamzah, Bayam Budiman, dan cerita Seribu Satu Malam. Di samping itu pengaruh dari kesustraan lamapun sangat besar terutama di Jawa, misalnya Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Sri Rama, Hikayat Perang Panda Jaya, Hikayat Maharaja Rahwana dan sebagainya. Di Melayu dikenal syair Ken Tambunan, Lelakon Mesa Kemitir, Syair Panji Sumirang. Ditinjau dari corak dan isinya, hasil satra zaman Islam dapat dibagi dalam beberapa jenis:

  • Hikayat , isinya merupakan cerita atau dongeng belaka. Keajaiban dan peristiwa-peristiwa tidak masuk akal justru menjadi bagian terpenting.
  • Babat, dongeng yang sengaja digubah sebagai cerita sejarah. Misalnya Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon, Sejarah Banten dan Babad Mataram. Di daerah Melayu babad dikenal dengan nama sejarah, salsasilah dan tambo. Beberapa kitab babad diberi judul “hikayat” misalnya Hikayat raja-raja Pasai, Hikayat Salasilah Perak
  • Suluk, adalah kitab-kitab yang membentang soal-soal tasawuf. Kitab yang dekat dengan suluk adalah primbon, yaitu kitab-kitab becorak kegaiban, yang berisi ramalan-ramalan, serta penentuan hari baik dan hari buruk dan pemberian makna pada suatu tujuan kejadian.

Ada beberapa macam suluk diantaranya sebagai berikut :

  • Suluk Sukarsa : bercerita tentang seseorang (ki Sukarsa) yang mencari ilmu sejati untuk mendaptkan kesempurnaan
  • Suluk Wujil          : Isinya wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada wujil yaitu seorang kerdil bekas abdi raja Majapahit
  • Suluk Malang Sumirang   :Isinya mengagung –agungkan orang yang telah mencapai kesempurnaan, telah lepas dari ikatan- ikatan syariah dan berhasil bersatu dengan tuhan.
  1. 8. Sistem pemerintahan

Sejalan dengan perkembangan melemahnya kekuasaan Sriwijaya, maka pedagang-pedagang Islam yang mungkin disertai para mubalig menggunakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dagang dan politik. Mereka mendukung berdirinya daerah-daerah yang menyatakan dirinya bercocok Islam misalnya Samodra Pasai dan merupakan  salah satu kerajaan Islam pertama di Indonesia. Pertumbuhan kerajan Islam semakin pesat  setelah runtuhnya Majapahit dan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis 1511. Kerajaan-kerajaan Islam pada umumnya tumbuh dan berkembang di daerah pantai, misalnya Demak, Gresik,  Tuban, Jepara, Pasuruan, Surabaya, Banten dll.

  1. 9. Social masyarakat

Keadaan sosial masyarakat sebelum Islam masuk menggunakan tradisi budaya pra-Hindu ada kecenderungan hanya menyentuh kelompok para raja  dan para bangsawan. Terlebih-lebih masyarakat pedesaan hidupnya tetap sebagai petani sedangkan masyarakat yang ada di daerah pantai tetap sebagai pedagang. Karena pengaruh Islam masuk melalui jalur perdagangan, maka daerah pantailah yang mengalami perubahan menjadi pelabuhan dagang atau kota dagang. Dalam masyarakat kota, baik kota pelabuhan maupun kota kerajaan dapat digolongkan menjadi empat golongan yaitu:

  • Golongan raja dan keluarganya
  • Golongan Elite, yaitu sekelompok masyarakat yang mempunyai kedudukan terkemuka di lingkungannya dan mempunyai martabat tinggi. Mereka terdiri dari golongan bangsawan, priyayi, tokoh agama.
  • Golongan non Elite, yaitu golongan masyarakat yang jumlahnya terbesar atau merupakan rakyat kebanyakan. Mereka terdiri dari para petani, pedagang, nelayan, seniman, prajurit dan sebagainya.
  • Golongan hamba sahaya, kelompok ini adalah kelompok masyarakat paling bawah disebut juga budak. Mereka mempunyai kedudukan ini karena beberapa faktor antara lain: seseorang yang tak mampu membayar hutang maka mereka menyerahkan kelurga ataupun dirinya untuk menjadi budak, para tawanan perang, dan diperoleh dari perdagangan budak.

Pendidikan Agama Islam pada masa ini telah dijarkan pada anak-anak, dimana pada sore hari mereka diberikan pendidikan mengaji. Anak-anak datang kepada orang yang telah fasih membaca Al Quran untuk belajar membaca. Masa ini juga dikenal dengan pondok pesantren yang memiliki 3 elemen yaitu guru kyai, santri, dan masjid. Mereka belajar yang belajar pesantren dibedakan atas dua macam. Pertama santri kalong yaitu santri tempat guru lansung dari rumahnya karena jaraknya dekat, kedua santri mukim mereka adalah anak-anak dewasa yang karena tinggalnya jauh dari guru mengaji maka ia menetap di lingkungan pondok pesantren. Yang terakhir adalah yang paling berkesan karena mereka lebih banyak menggunakan wantu untuk  belajar di pesantren. Pengajaranya dilakukan dengan dua sistem yaitu sorongan dan bandongan. Sorongan adalah apabila seorang santri secara individual belajar pada kyai, ustadz, tertentu atau santri senior untuk membaca kitab agama, baik untuk tahap pengenalan atau pedalaman. Dalam sistem bandongan atau weton para santri belajar dari kyai atau ustadz. Mereka membentuk sebuah kelompok yang mengelilingi kyai atau ustadz yang membaca, menterjemahkan dan menjelaskan kitab agama tertentu dan secara berangsur sistem yang dipakai mengarah pada sistem klasikal dimana seorang ustadz menghadapi sekaligus santri dalam ukuran kelas.

BAB III

RANGKUMAN

Agama Islam adalah agama datang ke Indonesia setelah datangnya Agama Hindu-Budha. Pengaruh yang dibawa Agama Islam tidak hanya mewarnai segi bangunan saja akan tetapi juga mempengaruhi bidang-bidang yang lainya. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa seni bangunan adalah yang paling banyak mendapat pengaruh dari agama Islam. Beberapa bangunan yang dapat menjadi contoh dari adanya pengaruh Islam adalah beberapa masjid yang berada di beberapa daerah di Indonesia. Beberapa bagian bengunanya dapat menjadi contoh dari adanya pengaruh Islam, antara lain adalah adanya atap tumpang, menara dan adanya makam di sekitar masjid. Semua itu dapat menjadi bukti adanya pengaruh agama Islam.Kebudayaan Islam sendiri meninggalkan berbagai ciri khusus yang dapat membedakanya denganhasil dari kebudayaan yang lainya. Akulturasi kebudayaan tidak dapat dihilangkan di perkembangan kebudayaan Islam.

Berbagai kebudayaan Islam mencirikan perpaduan antara Hindu-Budha Islam. Makam memberikan ciri tersendiri yaitu adanya perkembangan cangkup dan adanya tradisi ziarah yang terkadang menyimpang. Banyak masyarakat Indonesia yang datang ke makam untuk meminta berkah adan untuk memohon akan suatu hal. Masjid di masa ini ditandai dengan adanya atap tumpang yang memiliki kemiripan dengan meru di Bali. Masjid makam bahkan memiliki beberapa pintu yang dimaksudkan menunjukan kesucian dari bangunan tersebut. Bidang kesenian yang meliputi seni pahat, seni sastra dan pertunjukan tak terlepas dari pengaruh Islam Dalam pewayangan terdapat tokoh Punakawan yang merupakan penciptaan dai Sunan Kalijaga. Beberapa sastra juga mengalami perkembangan terbukti dengan adanya beberapa karya hikayat dan suluk. Upacara Gerebeg dan Sekanten menjadi bukti lain adanya pengaruh Islam tersebut. Selain itu para raja juga banyak menggunakan nama-nama yang identik dengan Islam seperti Sultan dan Susuhunan. Semua itu menjadi bukti bahwa masuknya Islam telah memberikan corak tersendiri bagi Indonesi

AKTIVITAS

Kegiatan kelompok : bagilah diri kalian menjadi beberapa kelompok, dimana dalam satu kelompok terdiri dari 5-6 orang. Kajilah dan jawablah pertanyaan dibawah ini:

-          Kalian telah mengetahui berbagai hasil kesenian pada masa Islam. Akan tetapi, hasil-hasil kesenian Islam tersebut terkadang masih tetap dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu Budha. Dapatkah kalian menunjukan hasil-hasil kesenian yang mendapat pengaruh Hindu Budha? Menurut pendapat kalian mengapa kebudayaan Hindu Budha itu tetap terlihat ?

EVALUASI:

20 soal pilihan ganda

10 soal uraian singkat

10 soal uraian panjang

  1. Pilihan ganda

Pililah salah satu jawaban yang benar !

  1. Karya sastra Jawa yang didalamnya terdapat serat yang mengisahkan dinasti raja-raja Jawa dihubungkan dengan para dewa atu juga para nabi, serat tersebut adalah tersebut dibawah ini, kecuali
  2. Salah satu bangunan peninggalan masa Islam dan merupakan pengaruh dari agama Hindu Budha adalah bangunan sebuah masjid yang pintu-pintunya seperti kuil-kuil dan pintu gerbangnya seperti candi, masjid ini terletak di kota….
    1. Jepara
    2. Kudus
    3. Rembang
    4. Gresik
    5. Tuban
    6. Batu nisan Sultan Malikul  al Saleh, menunjukan bahwa Islam yang berkembang di Indonesia berasal dari…
      1. Mesir
      2. Turki
      3. Arabs
      4. Persi
      5. India
      6. Pada awal perkembangan Islam di Indonesia seni pahat tidak dapat berkembang, karena….
        1. Seni patung dianggap budaya Hindu
        2. Membuat patung membutuhkan keahlian khusus
        3. Membuat patung dianggap bertentangan dengan ajaran Islam
        4. Ajaran Islam melarang pembuatan patung
        5. Patung dapat dijadikan obyek pemujaan
        6. Berikut ini adalah peninggalan sejarah yang bercorak Islam, kecuali….
          1. Bahasa Arab dan masjid
          2. Masyarakat Islam dan pesantern
          3. Makam Islam dan wayang kulit.
          4. Kitab suluk dan primbon
          5. Makam Islam dan masyarakat Islam
          6. Pengaruh budaya Islam dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada zaman madya adalah…
            1. Pendewaan terhadap raja semakin dalam
            2. Pengaruh budaya asli Indonesia semakin lenyap
            3. Jabatan raja dalam pemerintahan semakin pudar
            4. Hilangnya sistem kasta dalam masyarakat
            5. Timbulnya penetrasi budaya Indonesia Islam
            6. Berikut ini merupakan hasil akultarasi budaya,kecuali….
              1. Tumbuhnya kehidupan masyarakat Jawa Hindu
              2. Tumbuh dan berkembangnya sistem birokrasi kerajaan Jawa
              3. Tumbuh dan berkembangnya kekuasaan mutlak raja
              4. Adanya karya Sastra berisi Cerita panji. Aji Saka. Kitab Negarakertagama, Kitab Pararaton.
              5. Adanya masyrakat Islam Sinkretik
              6. Salah satu contoh adanya pengaruh budaya Islam di Indonesia dalam bidang politik adalah…
                1. Raja berkuasa atas kedaulatan rakyat
                2. Hubungan raja dengan rakyat menjadi bebas
                3. Raja bergelar Sultan atau Sunan
                4. Kekuasaan wilayah di tangan keluarga raja
                5. Rakyat berkewajiban membayar ganti rugi
                6. Masjid Demak adalah salah satu peninggalan kebudayaan Islam yang juga mendapat pengaruh Agama Hindu. Pengaruh agama Hindu dalam bangunan Masjid Demak yang paling menonjol adalah bagian……………
                  1. Pilar-pilarnya
                  2. Ukiran mimbarnya
                  3. Ukiran pada pintu-pintu masjid
                  4. Atap tumpang pada masjid
                  5. Adanya bedug masjid
    1. Serat Titi Asri
    2. Serat Pararaton
    3. Serat Centini
    4. Serat Babad Tanah Jawi
    5. Serat Gatot Kaca

10.  Salah satu karya dari pengaruh Islam adalah karya satra melayu yang ditulis Nuruddin ar-Raniri pada saat pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Karyanya yang paling terkenal adalah…

  1. Sharab al-ashiqin
  2. Asrar Al-Arifin
  3. Bustan as-Salatin
  4. Nur as-daqi’ig
    1. Akbarnama

11.  Lawang Bledek adalah merupakan salah satu pintu terkenal pada masjid…

  1. Cirebon
  2. Demak
  3. Banten
  4. Kudus
  5. Manting
  6. Kaligrafi
  7. Aksara
  8. Gubahan
  9. Bangunan
  10. Pertunjukan
  1. Hikayat adalah bentuk pengaruh Islam dalam bidang…

13.  Batu nisan Sultan Malik Saleh adalah salah satu contoh batu nisan yang berasal dari Gujarat bukan dari Indonesia. Hal ini dikarenakan bentuk nisan Indonesia memiliki ciri antara lain….

  1. Seperti lengkungan kalamakara
  2. Ditulis dalam bahasa Arab
  3. Ada hiasan kaligrafi
  4. Tidak ditulis dalam bahasa kawi
  5. Tanpa banyak hiasan

14.  Berikut ini adalah merupakan hasil Jawanisasi terhadap Hinduisme dan Islamisasi, kecuali

  1. Adanya tokoh Punakawan dalam karya satra jawa
  2. Adanya sistem petangan dalam kehidupan masyarakat jawa
  3. Adanya penggunaan Tahun hijriah dalam perhitungan waktu jawa
  4. Adanya karya sastra bentuk kakawin dan kidung
  5. Adanya tradisi prata mangsa dalam kehidupan masyarakat

15.  Kesenian debus adalah salah satu hasil kebudayaan Islam di bidang pertunjukan. Pertunjukan ini dapat ditemui dibeberapa daerah di bawah ini, kecuali….

  1. Minangkabau
  2. Banten
  3. Priayangan
  4. Tasikmalaya
  5. Kalimantan

16.  Masjid yang mendapat pengaruh arsitekur barat, khusunya Negara Cina adalah masjid…

  1. Banten
  2. Mantingan
  3. Demak
  4. Payakumbuh
  5. Kudus
  6. Yang menunjukan kiblat arah Mekah
  7. Temapat dimana Khotib memberi Khotbah
  8. Lantai depan mimbar tempat jemaah melakukan salat atau mendengarkan khotbah
  9. Tempat mengambil air wudhu
  10. Bagian depan masjid tempat anak-anak belajar mengaji
  1. Salah satu bagian dari Masjid tradisional  yang bernama Liwan adalah sebuahtempat…..
  1. Pandawa Lima adalah sebuah symbol adanya pengaruh agama Islam dalam seni pertunjukan wayang.Di bawah ini yang bukan merupakan nama dari  ke 5 Pandawa Lima adalah…
  1. Sadewa
  2. Arjuna
  3. Werkudara
  4. Gatotkaca
  5. Semar
  6. Gresik
  7. Demak
  8. Bali
  9. Aceh
  10. Kudus
  1. Daerah di Indonesia  yang tidak mendapatkan pengaruh dalam bidang seni pahat Islam adalah…


  1. Yang  disebut  dengan santri Kalong adalah …..

a. Santri yang datang mengaji lansung ke tempat guru mengajinya

b.Santri yang tinggal bersama di lingkungan pondok pesantren

c. Santri yang memiliki hubungan kelurga dengan guru ngajinya

  1. Santri yang berada pada tingkatan paling atas

e. Santri yang berada pada tingkatan bawah

  1. ESAI

Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan benar !

  1. Makam yang mendapat pengaruh Gujarat adalah makam dari…
  2. Coba kalian jelaskan kegunaan  dan maksud dari  adanya Candi Bentar dari Kori Agung dalam masjid Kudus…..
  3. Masjid Angke di Jakarta adalah masjid yang mendapat pengaruh dari….
  4. Bandingkanlah beberapa kitab Suluk dibawah ini !
Nama suluk Keterangan
Suluk Sukarsan
Suluk Wujil
Suluk Malang Sumirang
  1. Yang dijadikan symbol lima Tiang agama Islam dalam seni pertunjukan wayang adalah…..
  2. Suatu kitab yang berisi ramalan-ramalan, kegaiban serta penetuan hari baik dan buruk disebut….
  3. Sultan Agung pernah menghasilkan kaarya seni sastra yang bernama…
  4. Apakah yang kamu ketahui tentang dua sistem pengajaran di pondok pesantren, sorongan dan bandongan…..
  5. Pada masa Kerajaan Majapahit, terdapat makam Dowo yang merupakan makam dari orang Islam di kawasan pemakaman Majapahit. Bedasarkan keterangan di atas apa yang kamu ambil mengenai masuknya agama Islam…..
  6. Sunan Kali Jaga melakukan akulturasi dalam penyiaran Agama Islam, Jelaskan dan berilah contoh hasil –hasil akulturasi dari Wali Tersebut…..
  1. ESAI

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan benar !

  1. Sebutkan dan jelaskan hal-hal yang melatarbelakangi kaligrafi tidak begitu berkembang di Indonesia !
  2. Bandingkanlah beberapa bentuk bangunan masjid di Indonesia yang merupakan peninggalan kebudayaan Islam !
  3. Pada masa perkembangan agama Islam , penggambaran dan pelukisan makhuk hidup dilarang oleh agama Islam.Hal ini berakibat pada banyaknya gambaran makhuk hidup yang kemudian disamarkan. Coba kalian jelaskan alasan yang melatarbelakangi dilarangnya penggambaran makhuk hidup oleh agama Islam!
  4. Apakah sebabnya masjid tradisional yang terkenal umumnya masjid makam, jelaskan !
  5. Masa awal Islam, telah terjadi akulturasi antara budaya Hindu dengan Islam dalam seni ukir, jelaskan dan beri contohnya !
  6. Wayang adalah salah satu sarana yang paling efektif dalam meyebarkan agama Islam pada masa awal Islam. Hingga di dalamnya dibuat beberapa tokoh yang menyimbolkan ajaran Islam. Berilah alasan mengapa wayang dianggap sebagai sarana yang paling efektif pada masa tersebut untuk menyebarkan agama Islam !
  7. Berilah contoh dan jelaskan hasil satra zaman Islam yang ditinjau dari corak dan isi !
  8. Masjid Banten sering disebut sebagai masjid yang mendapat pengaruh dari dunia barat khususnya Cina, berilah alasan yang melatarbelakangi sehingga masjid tersebut disebut mendapat pengaruh dari Cina !
  9. Jelaskanlah mengapa pengaruh Islam di bidang sosial masyarakat lebih banyak terjadi di sekitar daerah pantai dan pelabuhan !
  10. Berkembangnya budaya Islam khususnya dalam bidang pemerintahan disebabkan oleh mundurnya kerajaan Sriwijaya. Bagaimana menurut kalian dengan pendapat tersebut , benar atau salah dan berilah penjelasan jawaban kalian !

Buku Acuan

I Wayan Badrika.2003. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum SMU kelas 2 IPS. Jakarta : Earlangga.

R Soekmono.1973. Sejarah Kebudayaan Indonesia  3. Yogyakarta: Kanisius.

Siswo dan Supartono W. 2004. Sejarah Jilid 2 Untuk SMA/ MA Kelas XI  Program IPS. Jakarta: Piranti Darma Kalokatama.

Tim Penyusun.2004. Sejarah Nasional dan Umum. Klaten : CV Merpati

Modul Sejarah Masuk Islam di Indonesia

MODUL PELAJARAN SEJARAH KELAS XI

MENGANALISIS PERKEMBANGAN KEHIDUPAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA

(Bagian : Kerajaan-Kerajaan Islam di Pulau Jawa)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran Sejarah

oleh :

Mochamad Arief Hidayat

( 07406244045 )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………………………………..

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………………….  1

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………………………..         2

A. Pengantar   ………………………………………………………………………………………   2

B. Tujuan  ……………………………………………………………………………………………   2

C. Manfaat   …………………………………………………………………………………………   2

D. Peta Konsep……………………………………………………………………………………..   3

BAB II MATERI …………………………………………………………………………………………   4

A. Kerajaan Demak ………………………………………………………………………………   4

B. Kerajaan Pajang………………………………………………………………………………..   7

C. Kerajaan Mataram ……………………………………………………………………………  10

D. Kerajaan Banten ……………………………………………………………………………… 15

BAB III KESIMPULAN……………………………………………………………………………….. 20

EVALUASI ………………………………………………………………………………………………… 21

BAHAN ACUAN ……………………………………………………………………………………… 24

KUNCI JAWABAN …………………………………………………………………………………… 25

Kompetensi Dasar     : Menganalisis Perkembangan Kehidupan Kerajaan-Kerajaan

Islam di Indonesia

Pokok Bahasan         : Kerajaan-Kerajaan Islam di Pulau Jawa

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pengantar

Dalam membicarakan Kedatangan Islam tentunya tidak terlepas dari kerajaan-kerajaan Islam baik di luar Pulau Jawa maupun di dalam Pulau Jawa itu sendiri. Tahukah kalian mengenai Kerajaan Islam apa saja yang berada di Pulau Jawa ? Tentunya kalian ingat, dengan Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram dan Kerajaan Banten. Semuanya tadi merupakan Kerajaan Islam yang berada di Pulau Jawa. Dari kesemuanya itu dalam modul ini akan dibahas satu persatu mengenai Kerajaan Islam yang berada di Pulau Jawa. Mulai dari pertama kerajaan pertama di Pulau Jawa beserta sejarah awal berdirinya masing-masing Kerajaan Islam tersebut sampai dengan runtuhnya kerajaan tersebut.

B. Tujuan

  1. Menyebutkan kerajaan-kerajaan Islam yang berada di wilayah Pulau Jawa
  2. Menjelaskan awal berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa sampai dengan keruntuhannya.
  3. Menjelaskan kehidupan politik, ekonomi dan sosial dari masing-masing kerajaan Islam di Jawa
  4. Menyebutkan raja yang membawa puncak kejayaan kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa.
  5. Menjelaskan sebab-sebab kemunduran kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa.

C. Manfaat

Siswa diharapkan memiliki kearifan budaya terutama kebudayaan lokal. Selain itu, siswa diharapkan memiliki keteladanan sifat-sifat para pemimpin yang arif selama memerintah pada pemerintahan kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di Indonesia khususnya kerajaan-kerajaan Islam yang berada di wilayah Pulau Jawa.

D. Peta Konsep

Kerajaan-Kerajaan Islam diPulau Jawa

Kemunduran
Kemunduran
Kemunduran
Kemunduran

BAB II

MATERI

A. KERAJAAN DEMAK

  1. Awal Berdirinya

Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. Kerajaan Demak dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di wilayah Pulau Jawa. Pada awalnya, Demak merupakan daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit. Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) raja Majapahit. Seiring dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa. Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dengan melakukan penyerangan terhadap Majapahit.

Kesultanan Demak merupakan kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478 setelah Demak berdiri sendiri terlepas dari Majapahit yang telah hancur. Dalam waktu singkat, Demak berkembang menjadi kerajaan besar. Wilayah kerajaan Demak meliputi Jepara, Semarang, Tegal, serta lembang, jambi, pulau pulau antara kalimantan, dan sumatera, serta beberapa daerah di pulau kalimantan. Pelabuhan pelabuhan penting yang dikuasai Demak ialah Jepara, Tuban, Sidayu, Jaratan, dan Gresik. Demak mempunyai peran penting dalam pengembangan agama Islam di Pulau Jawa dan Demak menjadi pusat penyebaran agama islam. Penyebar penyebar agama islam terkenal dengan sebutan wali. Untuk tempat beribadah dan pusat kegiatan agama., para wali mendirikan masjid di demak.

  1. Kehidupan Politik, Ekonomi dan Sosial

Raja-raja yang pernah memereintahan di Kerajaan Demak yang pertama sekaligus sebagai pendiri kerajaan Demak ini ialah Raden Patah yang bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah (1500 – 1518). Raden Patah merupakan keturunan raja terakhir dari Kerajaan Majapahit yakni Raja Brawijaya V. Dibawah pemerintahannya, Kerajaan Demak berkembang dengan pesat karena memiliki daerah pertanian yang luas sebagai penghasil bahan makanan, terutama beras. Oleh karena itu, Kerajaan Demak menjadi kerajaan yang agraris-maritim. Pada masa ini, wilayah kekuasaan Demak meliputi Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan, dan Gresik yang berkembang menjadi pelabuhan transito. Pada tahun 1511 ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis hubungan Demak dengan Malaka terputus sehingga Demak merasa dirugikan oleh Portugis dalam aktivitas perdagangan. Oleh karena itu, pada tahun 1513 Raden Patah memerintah Adipati Unus untuk memimpin pasukan Demak dalam menyerang Portugis di Malaka. Serangan ini belum berhasil karena pasukan Portugis mempunyai persenjataan yang lengkap dan jauh lebih kuat dari pasukan Demak. Namun demikian, Adipati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor sebagai simbol dari usahanya

Lihatlah foto disamping, Siapakah dia? Kalian tahu, itu adalah foto Raden Patah. Setelah Raden Patah wafat pada tahun 1518, tahta  Kerajaan Demak dipegang oleh Adipati Unus. Ia memerintah Demak dari tahun 1518-1521 M. Namun demikian, pemerintahan Adipati Unus ini tidaklah begitu lama yakni hanya dalam jangka waktu tiga tahun. Demak di bawah Pati Unus adalah Demak yang berwawasan nusantara. Visi Ilustrasi Raden Patah besarnya adalah menjadikanDemak sebagai kesultanan maritim yang besar. Pada masa kepemimpinannya, Demak merasa terancam dengan pendudukan Portugis di Malaka. Dengan adanya Portugis di Malaka, kehancuran pelabuhan-pelabuhan Nusantara tinggal menunggu waktu. Oleh sebab itu, pada masa pemerintahan Adipati Unus, Demak melakukan blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis kekurangan makanan.

Meskipun dalam memerintah Demak, Adipati Unus tidaklah lama tetapai namanya cukup terkenal sebagai panglima perang yang memimpin pasukan Demak menyerang Portugis di Malaka. Setelah beliau meninggal dalam usia yang masih muda, beliau tidak meninggalkan seorang putra mahkota. Calon pengganti Pati Unus ialah Pangeran Sekar, putra kedua Raden Patah. Tetapi Pangeran Sekar dibunuh oleh Sunan Prawata yang merupakan putra sulung pangeran Trenggana. Sedangkan Pangeran Trenggana adalah putra ketiga Raden Patah. Sehingga pemerintahan Demak digantikan oleh saudaranya Adipati Unus yang bernama Pangeran Trenggana. Pada pemerintahan Sultan Trenggono inilah Demak mengalami zaman keemasan.

Dalam bidang Ekonomi Demak mempunyai peran sangat penting. Seperti yang telah dijelaskan pada uraian materi sebelumnya, bahwa letak Demak sangat strategis di jalur perdagangan nusantara memungkinkan Demak berkembang sebagai kerajaan maritime. Sebagai Negara maritim inilah, Demak menjalankan fungsinya sebagai penghubung dan transito antara daerah-daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia bagian timur dan Malaka sebagai pasaran Indonesia bagian barat. Hal ini mendorong Kerajaan Demak untuk menggantikan kedudukan Malaka sebagai pusat perdangangan baik nasional maupun internasional. Untuk mencapai tujuan ini, Demak bermaksud menduduki Malak terlebih dahulu dengan mengusir Portugis yang telah berkuasa di Malaka sejak tahun 1511 M.

Perekonomian Kerajaan Demak berkembang dengan pesat dalam dunia maritime karena didukung oleh penghasilan dalam bidang agraris yang cukup besar. Kerajaan Demak ini mengusahakan kerjasama yang baik dengan daerah-daerah di Pantai utara Pulau Jawa yang telah menganut Islam sehingga tercipta persemakmuran dengan Demak sebagai pemimpinnya. Agama Islam inilah yang merupakan factor yang menjadi unsur pemersatu yang menimbulkan kekuatan yang besar.

Namun demikian sebagai kerajaan Islam yang memiliki wilayah di pedalaman, maka Demak juga memperhatikan masalah pertanian, sehingga beras merupakan salah satu hasil pertanian yang menjadi komoditi dagang. Dengan demikian kegiatan perdagangannya ditunjang oleh hasil pertanian, mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan di bidang ekonomi. Kehidupan social masyarakat telah diatur oleh aturan-aturan atau hokum-hukum yang berlaku dalam ajara Islam, tetapi tidak begitu saja meninggalkan tradisi lama sehingga muncullah system kehiduapan social masyarakat yang telah teratur.

  1. Zaman Keemasan

Kerajaan Demak mengalami masa kejayaan pada pemerintahan Sultan Trenggana yang memerintah dari tahun 1521-1546 M. Sultan Trenggana berusaha untuk memperluas daerah kekuasaannya hingga ke daerah Jawa Barat. Pada tahun 1522 Kerajaan Demak mengirimkan pasukan ke Jawa Barat di bawah pimpinan Fatahillah. Ia adalah seorang ulama dari pasai yang datang ke demak untuk  mengabdi kepada Sultan. Kedatangannya diterima dengan baik oleh Sultan Trenggana. Pada tahun 1527 armada Demak dibawah pimpinan Faletehan menuju ke Banten, Sunda kelapa, dan Cirebon. Ketiga daerah tersebut termasuk wilayah kerajaan Pajajaran. Banten dapat direbut, kemudian dilakukan penyerangan ke Sunda kelapa, ketika itu orang-orang Portugis juga datang ke Sunda Kelapa. Mereka akan mendirikan kantor dagang dan benteng di Sunda Kelapa. Kemudian terjadi perang antara orang Portugis dengan armada Demak. Demak kemudian menang dan armada portugis dapat dihancurkan. Tepat pada tanggal 22 Juni 1527 Sunda Kelapa data dikuasai dan dganti nama dengan Jayakarta.

Karena usaha perluasan wilayah ke Jawa Barat berhasil, maka Sultan Trenggana ingin meluaskan wilayah lebih lanjut. Kali ini sasarannya adalah Pasuruan, Jawa Timur. Dalam usaha menaklukkan Jawa Timur, sultan trenggana gugur. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1546.

  1. Keruntuhan

Setelah wafatnya Sulatan Trenggana terjadi perebutan kekuasaan di Kerajaan Demak. Perebutan ini terjadi antara Pangeran Sekar Seda ing Lepen dan Sunan Prawata yang merupakan putra tunggal Sultan Trenggana. Dengan demikian terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh Sunan Prawata kepada Pangeran Sekar Seda ing Lepen. Putra dari Pangeran Sekar Seda ing Lepen yang bernama Arya Penangsang dari Jipang menuntut balas kematian ayahnya dengan membunuh Sunan Prawoto. Selain itu, Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri yang dianggap sebagai penghalang Arya penangsang menjadi Sultan di Demak.

Setelah itu, Arya Penangsang kembali dibunuh oleh Ki Jaka Tingkir yang dibantu oleh Kiyai Gede Pamanahan dan putranya Sutawijaya serta Ki Panjawi. Jaka Tingkir naik tahta dan penobatannya dilakukan oleh Sunan Giri. Setelah beliau menjadi Raja, beliau bergelar Sultan Hadiwijaya kemudian memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan dari Demak ke Pajang.

B. KERAJAAN PAJANG

  1. Awal Berdirinya

Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kesultanan Demak. Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memeberontak terhadap Demak. Putranya yang bergelar Jaka Tingkir setelah dewasa justru mengabdi ke Demak. Prestasi Jaka Tingkir yang cemerlang dalam ketentaraan membuat ia diangkat sebagai menantu Sultan Trenggana, dan menjadi bupati Pajang bergelar Hadiwijaya. Wilayah Pajang saat itu meliputi daerah Pengging, Tingkir, Butuh dan sekitarnya.

Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, Sunan Prawoto naik takhta, namun kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang tahun 1549. Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal. Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (bupati Jepara putri Sultan Trenggana), Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Ia pun menjadi pewaris takhta Kesultanan Demak, yang ibu kotanya dipindah ke Pajang.

Pangeran Hadiwijaya merupakan raja pertama kerajaan Pajang. Kedudukannya yang disahkan oleh Sunan Giri segera mendapat pengakuan dari adipati diseluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Demak sendiri berubah statusnya kadipaten dengan adipati Arya Pangiri salah seorang anak sunan Prawoto. Pengikut Adi wijoyo yang sngat berjasa dalam mengalahkan Arya Penangsang adalah Kiyai Ageng Pamanahan. Ia kemudian diberi hadiah daerah Mataram yakni yang berada di wilayah sekitar Kota Gede Yogyakarta (sekarang). Ia dikenal dengan sebutan Kiayai Gede Mataram dan merupakan perintis pendiri Kerajaan Mataram.

Pada tahun 1582 Hadiwijaya meninggal, Pangeran Benowo yang merupakan putranya yang seharusnya menggantikannya disingkirkan oleh Arya Pangiri dari Demak. Oleh Arya Pangiri, pangeran Benowo dijadikan Adipati di Jipang, sedang Pajang diduduki oleh Arya Pangiri.

  1. Kehidupan Politik, Ekonomi dan Sosial

Pada zaman Kesultanan Demak, majelis ulama Wali Songo memiliki peran penting, bahkan ikut mendirikan kerajaan tersebut. Majelis ini bersidang secara rutin selama periode tertentu dan ikut menentukan kebijakan politik Demak. Sepeninggal Sultan Trenggana, peran Wali Songo ikut memudar. Sunan Kudus bahkan terlibat pembunuhan terhadap Sunan Prawoto, raja baru pengganti Sultan Trenggana. Meskipun tidak lagi bersidang secara aktif, sedikit banyak para wali masih berperan dalam pengambilan kebijakan politik Pajang. Misalnya, Sunan Prapen bertindak sebagai pelantik Hadiwijaya sebagai sultan. Ia juga menjadi mediator pertemuan Sultan Hadiwijaya dengan para adipati Jawa Timur tahun 1568.

Sementara itu, Sunan Kalijaga juga pernah membantu Ki Ageng Pemanahan meminta haknya pada Sultan Hadiwijaya atas tanah Mataram sebagai hadiah sayembara menumpas Arya Penangsang. Wali lain yang masih berperan menurut naskah babad adalah Sunan Kudus. Sepeninggal Sultan Hadiwijaya tahun 1582, ia berhasil menyingkirkan Pangeran Benawa dari jabatan putra mahkota, dan menggantinya dengan Arya Pangiri. Mungkin yang dimaksud dengan Sunan Kudus dalam naskah babad adalah Panembahan Kudus, karena Sunan Kudus sendiri sudah meninggal tahun 1550.

  1. Zaman Keemasan

Pada awal berdirinya tahun 1549, wilayah Kesultanan Pajang hanya meliputi sebagian Jawa Tengah saja, karena negeri-negeri Jawa Timur banyak yang melepaskan diri sejak kematian Sultan Trenggana. Pada tahun 1568 Sultan Hadiwijaya dan para adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen. Dalam kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang di atas negeri-negeri Jawa Timur. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama Surabaya (pemimpin persekutuan adipati Jawa Timur) dinikahkan dengan putri Sultan Hadiwijaya. Negeri kuat lainnya, yaitu Madura juga berhasil ditundukkan Pajang. Pemimpinnya yang bernama Raden Pratanu alias Panembahan Lemah Duwur juga diambil sebagai menantu Sultan Hadiwijaya.

  1. Keruntuhan

Tanah Mataram dan Pati adalah dua hadiah Sultan Hadiwijaya untuk siapa saja yang mampu menumpas Arya Penangsang tahun 1549. Menurut laporan resmi peperangan, Arya Penangsang tewas dikeroyok Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati sejak tahun 1549. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan hadiahnya tahun 1556 berkat bantuan Sunan Kalijaga. Hal ini disebabkan karena Sultan Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang. Ramalan tersebut menjadi kenyataan ketika Mataram dipimpin Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan sejak tahun 1575.

Tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang. Di bawah pimpinannya, daerah Mataram semakin hari semakin maju dan berkembang. Pada tahun 1582 meletus perang Pajang dan Mataram karena Sutawijaya membela adik iparnya, yaitu Tumenggung Mayang, yang dihukum buang ke Semarang oleh Sultan Hadiwijaya. Perang itu dimenangkan pihak Mataram meskipun pasukan Pajang jumlahnya lebih besar. Sepulang dari perang, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Terjadi persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.

Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin. Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Sultan Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua. Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga. Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya. Sutawijaya sendiri mendirikan Kesultanan Mataram di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati

C. KERAJAAN MATARAM

  1. 1. Awal Berdirinya

Nama kerajaan Mataram tentu sudah pernah Anda dengar sebelumnya dan ingatan Anda pasti tertuju pada kerajaan Mataram wangsa Sanjaya dan Syailendra pada zaman Hindu-Budha.

Kerajaan Mataram yang akan dibahas dalam modul ini, tidak ada hubungannya dengan kerajaan Mataram zaman Hindu-Budha. Mungkin hanya kebetulan nama yang sama. Dan secara kebetulan keduanya berada pada lokasi yang tidak jauh berbeda yaitu Jawa Tengah Selatan. Pada awal perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang dikuasai oleh Ki Gede Pamanahan. Daerah tersebut diberikan oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yaitu raja Pajang kepada Ki Gede Pamanahan atas jasanya membantu mengatasi perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang munculnya kerajaan Pajang. Ki Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya yang juga mengabdi kepada raja Pajang sebagai komando pasukan pengawal raja. Setelah Ki Gede Pamanahan meninggal tahun 1575, maka Sutawijaya menggantikannya sebagai adipati di Kota Gede tersebut.

Setelah pemerintahan Hadiwijaya di Pajang berakhir, maka kembali terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri, Bupati Demak yang merupakan keturunan dari Raden Trenggono. Akibat dari perang saudara tersebut, maka banyak daerah yang dikuasai Pajang melepaskan diri, sehingga hal inilah yang mendorong Pangeran Benowo meminta bantuan kepada Sutawijaya.

Atas bantuan Sutawijaya tersebut, maka perang saudara dapat diatasi dan karena ketidakmampuannya maka secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya. Dengan demikian berakhirlah kerajaan Pajang dan sebagai kelanjutannya muncullah kerajaan Mataram. Lokasi kerajaan Mataram tersebut di Jawa Tengah bagian Selatan dengan pusatnya di kota Gede yaitu di sekitar kota Yogyakarta sekarang.

Pada awalnya Kerajaan Mataram adalah sebuah daerah kadipaten yang berda dibawah kekuasaan Kerajaan Pajang. Lokasi kerajaan Mataram tersebut di Jawa Tengah bagian Selatan dengan pusatnya di kota Gede yaitu di sekitar kota Yogyakarta sekarang ini lah Mataram terus berkembang hingga akhirnya menjadi sebuah kerajaan besar dengan wilayah kekuasaannya  yang meliputi daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian daerah Jawa Barat.

  1. 2. Kehidupan Politik, Ekonomi dan Sosial

Setelah runtuhnya Kerajaan Demak pusat penerintahan dipindahkan ke Pajang oleh Ki Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya yang merupakan menantu dari Sultan Trenggana dan selanjutnya mendirikan Kerajaan Pajang. Namun Kerajaan Pajang ini usianya tidak lama yaitu antara tahun 1569-1586 M. Setelah Sultan Hadiwijaya meninggal kota-kota pesisir terus diperkuat sehingga membahayakan kedudukan Kerajaan Pajang. Sedangkan Pangeran Benowo pengganti Sultan Hadiwijaya tidak dapat mengatasi gerakan-gerakan yang dilakukan oleh para bupati dari daerah pesisir itu. Oleh karena itu, Pangeran Benowo menyerahkan kekuasaan kerajaan kepada Sutawijaya. Dengan demikian berdirilah Kerajaan Mataram. Adapun raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Mataram ini yang pertama yaitu Panembahan Senopati.

Panembahan Senopati ini merupakan gelar bagi Sutawijaya. Ia memerintah tahun Kerajaan Mataram mulai dari tahun 1586 sampai dengan 1601. Pada awal pemerintahannya ia berusaha menundukkan daerah-daerah seperti Ponorogo, Madiun, Pasuruan, dan Cirebon serta Galuh. Namun demikian, sebelum usaha dari Panembahan Senopati untuk memperluas dan memperkuat Kerajaan Mataram ini dapat terwujud, Ia meninggal. Akhirnya digantikan oleh putranya yaitu Mas Jolang yang bergelar Sultan Anyakrawati tahun 1601 – 1613.

Mas Jolang memerintah Mataram dari tahun 1601 sampai dengan 1613 M. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Mataram diperluas wilayahnya lagi dengan mengadakan pendudukan terhadap daerah-daerah di sekitarnya.. Adapun daerah-daerah yang berhasil dikuasainya adalah Ponorogo, Kertosono, Kediri, Wirosobo (Mojoagung).

Pada tahun 1612 M, Grersik-Jeratan berhasil dihancurkan. Namun, karena berjangkitnya penyakit menular maka pasukan Mataram yang langsung dipimpin olh Mas Jolang itu sendiri terpaksa kembali ke Mataram. Pada masa pemerintahan Mas Jolang ini banyak bupati Jawa Timur yang berusaha memberontak dan melepaskan diri. Dengan susah payah, Mas Jolang menghadapinya. Bahkan, sebelum seluruhnya dapat diatasi Mas Jolang meninggal di Krapyak tepat pada tahun 1613 dan dimakamkan di Pasar Gede selanjutnya diberi gelar Pangeran Seda ing Krapyak. Tahta selanjutnya digantikan oleh Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senopati ing alogo Ngabdurrahman, yang memerintah tahun 1613 – 1645. Sultan Agung merupakan raja terbesar dari kerajaan ini sehingga Mataram dapat mencapai masa kejayaannya.

Kerajaan Mataram yang berada di daerah pedalaman Jawa Tengah benar-benar merupakan sebuah Negara agraris. Akan tetapi, penguasa daerah pantai yang mata pencaharian utamanya adalah pelayaran perdaganagn menghendaki daerahnya sebagai Negara merdeka atau setidak-tidaknya sebagai anggota serikat atau federasi yang sifatnya desentralisasi.

Dibawah pemerintahan Sulatan Agung kehidupan perekaonomian masyarakat berkembang pesat karena didukung oleh hasil bumi mataram yang besar. Selain itu, Sulatan Agung melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan daerah-daerah persawahan dan memindahkan banyak petani ke daerah Karawang yang subur. Atas dasar kehidupan agraris itulah disusun suatu masyarakat yang bersifat feudal. Para pejabat memperoleh imbalan beruapa tanah garapan atau pajak tanah. Sistem kehidupan ini menjadi dasar utama munculnya tuan-tuan tanah di Jawa.

  1. 3. Zaman Keemasan

Sebelum Sultan Agung berkuasa. Sebenarnya tahta Kerajaan Mataram di duduki oleh Raden Mas Martapura. Namun, karena sakit-sakitan akhirnya turun dari tahta Kerajaan Matarm. Kemudian digantikan oleh Mas Rangsang dengan gelar Sultan Agung Senopati alogo Ngabdurrahman. Ia adalah raja Mataram yang pertama memakai gelar sultan, sehingga lebih dikenal dengan nama Sultan Agung. Sultan agung memerintahn Mataram mulai dari tahun 1613-1645 M. Di bawah pemerintahnnya Kerajaan Mataram mencapai masa kejayaan. Sultan Agung disampin seorang raja, ia juga tertarik dengan filsafat, kesusastraan, dan seni. Sehingga Sultan Agung menulis buku filsafat yang berjudul Sastro Gading.

Sultan agung merupakan raja yang gagah berani, cakap dan bijaksana. Ia mempunyai tujuan mempertahankan seluruh tanah Jawa dan mengusir orang-orang Belanda. Sehingga ia juga terkenal sebagai seorang sultan yang sangat antipati terhadap Belanda. Pada tahun 1625  hampir seluruh pulau Jawa dikuasainya kecuali Batavia dan Banten. Penyatuan wilayah-wilayah kekuasaan Mataram ini dilakukan dengan salah satu caranya melalui ikatan perkawinan antara adipati-adipati dengan putri-putri Mataram, bahkan Sultan Agung sendiri menikah dengan putri Cirebon sehingga daerah Cirebon juga mengakui kekuasaan Mataram..

Pada masa pemerintahan Sultan Agung Kerajaan Mataram mengadakan dua kali penyerangan ke Batavia pada tahun 1628 M dan 1629 M, namun keduanya gagal. Penyebab kegagalan serangan terhadap VOC antara lain karena jarak tempuh dari pusat Mataram ke Batavia terlalu jauh kira-kira membutuhkan waktu 1 bulan untuk berjalan kaki, sehingga bantuan tentara sulit diharapkan dalam waktu singkat. Dan daerah-daerah yang dipersiapkan untuk mendukung pasukan sebagai lumbung padi yaitu Kerawang dan Bekasi dibakar oleh VOC, sebagai akibatnya pasukan Mataram kekurangan bahan makanan. Dampak pembakaran lumbung padi maka tersebar wabah penyakit yang menjangkiti pasukan Mataram, sedangkan pengobatan belum sempurna.

Hal inilah yang banyak menimbulkan korban dari pasukan Mataram. Di samping itu juga sistem persenjataan Belanda lebih unggul dibanding pasukan Mataram. Kegagalan ini membuat Sultan Agung memperketat penjagaaannya pada daerah-daerah perbatasan yang dekat dengan Batavia sehingga di bpemerintahannya Belanda sulit menembus Mataram. Pada tahun 1645 M Sulatan Agung wafat dan digantikan oleh putranya yang mendapat gelar Amangkurat I.

  1. 4. Keruntuhan

Setelah wafatnya Sultan Agung tahun 1645, Mataram tidak memiliki raja-raja yang cakap dan berani seperti Sultan Agung, bahkan putranya sendiri yaitu Amangkurat I dan cucunya Amangkurat II, Amangkurat III, Paku Buwono I, Amangkurat IV, Paku Buwono II, Paku Buwono III merupakan raja-raja yang lemah. Kelemahan raja-raja Mataram setelah Sultan Agung dimanfaatkan oleh penguasa daerah untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mataram juga VOC. Akhirnya VOC berhasil juga menembus ke ibukota dengan cara mengadu-domba sehingga kerajaan Mataram berhasil dikendalikan VOC.

Silsilah Kerajaan Mataram

Pada pemerintahan Amangkurat I yang berlangsung dari tahun 1645 sampai dengan 1677 M, orang-orang Belanda mulai masuk ke daerah Mataram. Bahkan Amangkurart I menjalin hubungan yang sangat erat dengan Belanda. Belanda diperkenankan untuk mendirikan benteng di Kerajaan Mataram. Setelah diperkenankan mendirikan Benteng, Belanda kemudian bertindak sewenang-wenang. Akhirnya mengakibatkan munculnya pemberontakan pemberontakan, diantaranya pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Trunoyo dari Madura pada tahun  1674 sampai dengan 1679. Pangeran Trunajaya berhasil menjalin hubungan dengan bupati di daerah pesisir pantai. Bahkan ibukota Mataram hamper dikuasai oleh Trunajaya. Namun, karena perlengkapan persenjataan yang jauh dibawah pasukan Belanda, akhirnya pemberontakan itu berhasil dipadamkan. Ketika pertempuran terjadi di pusat ibukota Kerajaan Mataram, Amangkurat I menderita luka-luka dan dilarikan ke Tegalwangi hingga meninggal dunia.

Tahta kerajaan Mataram setelah meninggalnya Amangkurat I, diduduki oleh Amangkurat II yang memerintah dari tahun 1677 sampai dengan 1703 M. Di bawah pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram semakin sempit. Sebagian besar daerah-daerah kekuasaan diambil alih Belanda. Amangkurat Ii yang tidak tertarik untuk tinggal di ibukota Kerajaan Mataram kemudian mendirikan ibukota baru di Desa Wonokerto yang diberi nama Kartasurya. Di ibukota inilah Amangkurat Ii menjalankan pemerintahannya terhadap sisa-siasa Kerajaan Mataram, hingga akhirnya meninggal pada tahun 1703 M. Setelah Amangkurat II meninggal, Kerajaan Mataram menjadi tambah suram dan pada tahun 1755 M melalui perjanjian Giyanti, Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua wilayah yakni Daerah kesultanan Yogyakarta dan Daerah Kesuhunan Surakarta.

D. KERAJAAN BANTEN

  1. 1. Awal Berdirinya

Banten awalnya merupakan salah satu dari pelabuhan kerajaan Sunda. Pelabuhan ini direbut 1525 oleh gabungan dari tentara Demak dan Cirebon. Setelah ditaklukan daerah ini diislamkan oleh Sunan Gunung Jati. Pelabuhan Sunda lainnya yang juga dikuasai Demak adalah Sunda Kelapa, dikuasai Demak 1527, dan diganti namanya menjadi Jayakarta.

Silsilah Kerajaan Banten

Setelah Anda menyimak silsilah raja-raja Banten tersebut, yang perlu Anda ketahui bahwa dalam perkembangan politiknya, selain Banten berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Demak, Banten juga berusaha memperluas daerah kekuasaannya antara lain Pajajaran. Dengan dikuasainya Pajajaran, maka seluruh daerah Jawa Barat berada di bawah kekuasaan Banten. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan raja Panembahan Yusuf. Pada masa pemerintahan Maulana Muhammad, perluasan wilayah Banten diteruskan ke Sumatera yaitu berusaha menguasai daerah-daerah yang banyak menghasilkan lada seperti Lampung, Bengkulu dan Palembang. Lampung dan Bengkulu dapat dikuasai Banten tetapi Palembang mengalami kegagalan, bahkan Maulana Muhammad meninggal ketika melakukan serangan ke Palembang.

Dengan dikuasainya pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa Barat dan beberapa daerah di Sumatera, maka kerajaan Banten semakin ramai untuk perdagangan, bahkan berkembang sebagai kerajaan maritim. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Pemerintahan Sultan Ageng, Banten mencapai puncak keemasannya Banten menjadi pusat perdagangan yang didatangi oleh berbagai bangsa seperti Arab, Cina, India, Portugis dan bahkan Belanda. Belanda pada awalnya datang ke Indonesia, mendarat di Banten tahun 1596 tetapi karena kesombongannya, maka para pedagang-pedagang Belanda tersebut dapat diusir dari Banten dan menetap di Jayakarta.

Di Jayakarta, Belanda mendirikan kongsi dagang tahun 1602. Selain mendirikan benteng di Jayakarta VOC akhirnya menetap dan mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia tahun 1619, sehingga kedudukan VOC di Batavia semakin kuat. Adanya kekuasaan Belanda di Batavia, menjadi saingan bagi Banten dalam perdagangan. Persaingan tersebut kemudian berubah menjadi pertentangan politik, sehingga Sultan Ageng Tirtayasa sangat anti kepada VOC. Dalam rangka menghadapi Belanda/VOC, Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan melakukan perang gerilya dan perampokan terhadap Belanda di Batavia. Akibat tindakan tersebut, maka Belanda menjadi kewalahan menghadapi Banten. Untuk menghadapi tindakan Sultan Ageng Tirtayasa tersebut, maka Belanda melakukan politik adu-domba (Devide et Impera) antara Sultan Ageng dengan putranya yaitu Sultan Haji. Akibat dari politik adu-domba tersebut, maka terjadi perang saudara di Banten, sehingga Belanda dapat ikut campur dalam perang saudara tersebut. Belanda memihak Sultan Haji, yang akhirnya perang saudara tersebut dimenangkan oleh Sultan Haji. Dengan kemenangan Sultan Haji, maka Sultan Ageng Tirtayasa ditawan dan dipenjarakan di Batavia sampai meninggalnya tahun 1692. Dampak dari bantuan VOC terhadap Sultan Haji maka Banten harus membayar mahal, di mana Sultan Haji harus menandatangani perjanjian dengan VOC tahun 1684. Perjanjian tersebut sangat memberatkan dan merugikan kerajaan Banten, sehingga Banten kehilangan atas kendali perdagangan bebasnya, karena Belanda sudah memonopoli perdagangan di Banten. Akibat terberatnya adalah kehancuran dari kerajaan Banten itu sendiri karena VOC/Belanda mengatur dan mengendalikan kekuasaan raja Banten. Raja-raja Banten sejak saat itu berfungsi sebagai boneka.

  1. 2. Kehidupan Politik, Ekonomi dan Sosial

Kehidupan politik pemerintahan Banten ditandai dengan adanya konsolidasi pemerintahan terutama pada masa awal berdirinya kerajaan ini. Pada masa selanjutnya ditandai dengan adanya perluasan wilayah serta perebutan hegemoni di Selat Sunda dan Laut Jwa dengan Mataram, bangsa Portugis, dan Belanda(VOC).

Kerajaan Banten menjadi pusat perdagangan yang dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya yaitu :

a)      Banten terletak di Teluk Banten dan pelabuhannya memiliki syarat sebagai pelabuhan yang baik.

b)      Kedudukan Banten yang sangat strategis di tepi Selat Sund karena aktivitas pelayaran perdagangan dari pedangan Islam semakin ramai sejak Portugis berkuasa di Malaka.

c)      Banten memiliki bahan ekspor penting yaitu lada sehingga menjadikan daya tarik yang kuat bagi pedagang-pedagang asing.

d)     Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis mendorong pedangang-pedagang mencari jalan baru di Jawa Barat di samping Cirebon.

Sejak daerah Banten diislamkan oleh Fatahillah, kehidupan social masyarakat secara perlahan-lahan mulai berlandaskan ajaran atau hokum-hukum yang berlaku dalam agama Islam. Bahkan pengaruh islam semakin berkembang ke daerah pedalaman setelah kerajaan Banten dapat mengalahkan kerajaan Hindu Pajajaran. Pendukung setia Kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman yaitu daerah Banten Selatan, mereka dikenal sebgai suku badui.

  1. 3. Zaman Keemasan

Pemerintahan Sultan Ageng, Banten mencapai puncak keemasannya Banten menjadi pusat perdagangan yang didatangi oleh berbagai bangsa seperti Arab, Cina, India, Portugis dan bahkan Belanda. Selain itu ditandai dengan dikuasainya pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa Barat dan beberapa daerah di Sumatera, maka kerajaan Banten semakin ramai untuk perdagangan, bahkan berkembang sebagai kerajaan maritim.

Kehidupan social kerajaan Banten di bawah pemerintahan Sultan Agrng Tirtayasa meningkat pesat karena ia sangat memperhatikan kehidupang rakyat dan berusaha untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Usaha yang dilakukannya adalah menerapkan system perdagangan bebas dan mengusir Belanda dari Batavia, meskipun masih gagal.

  1. 4. Keruntuhan

Dengan didirikannya benteng di Jayakarta VOC akhirnya menetap dan mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia tahun 1619, sehingga kedudukan VOC di Batavia semakin kuat. Adanya kekuasaan Belanda di Batavia, menjadi saingan bagi Banten dalam perdagangan. Persaingan tersebut kemudian berubah menjadi pertentangan politik, sehingga Sultan Ageng Tirtayasa sangat anti kepada VOC. Dalam rangka menghadapi Belanda/VOC, Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan melakukan perang gerilya dan perampokan terhadap Belanda di Batavia. Akibat tindakan tersebut, maka Belanda menjadi kewalahan menghadapi Banten. Untuk menghadapi tindakan Sultan Ageng Tirtayasa tersebut, maka Belanda melakukan politik adu-domba (Devide et Impera) antara Sultan Ageng dengan putranya yaitu Sultan Haji. Akibat dari politik adu-domba tersebut, maka terjadi perang saudara di Banten, sehingga Belanda dapat ikut campur dalam perang saudara tersebut. Belanda memihak Sultan Haji, yang akhirnya perang saudara tersebut dimenangkan oleh Sultan Haji. Dengan kemenangan Sultan Haji, maka Sultan Ageng Tirtayasa ditawan dan dipenjarakan di Batavia sampai meninggalnya tahun 1692. Dampak dari bantuan VOC terhadap Sultan Haji maka Banten harus membayar mahal, di mana Sultan Haji harus menandatangani perjanjian dengan VOC tahun 1684. Perjanjian tersebut sangat memberatkan dan merugikan kerajaan Banten, sehingga Banten kehilangan atas kendali perdagangan bebasnya, karena Belanda sudah memonopoli perdagangan di Banten. Akibat terberatnya adalah kehancuran dari kerajaan Banten itu sendiri karena VOC/Belanda mengatur dan mengendalikan kekuasaan raja Banten. Raja-raja Banten sejak saat itu berfungsi sebagai boneka.

Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford Raffles. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808 Untuk menambah pemahaman kalian mengenai letak kerajaan Banten dilihat dari peta pulau jawa, lihatlah peta dibawah ini !

KEGIATAN BELAJAR

Demikianlah uraian materi tentang Kerajaan-kerajaan Islam yang berada diwilayah Jawa. Dari uraian tersebut, apakah kalian sudah dapat memahaminya? Kalau kalian sudah paham, coba deskripsikan secara singkat menurut bahasa kalian sendiri mengenai salah satu kerajan-kerajaan Islam yang ada di Pulau Jawa ini mulai dari awal berdirinya kerajaan tersebut sampai dengan keruntuhannya !

BAB III

KESIMPULAN

Dengan membaca modul ini semoga kalian dapat lebih memahami mengenai Kerajaan-kerajaan Islam yang berda di wilayah Pulau Jawa. Selamat untuk Kalian yang telah selesai mempelajari modul ini tentang Kerajaan-Kerajaan Islam di Pulau Jawa. Mudah-mudahan setelah kalian mempelajari modul ini, kalian dapat memahami dan mengambil pelajaran untuk kehidupan kalian selanjutnya agar kalian dapat bersikap bijaksana dan mengambil pelajaran yang baik sebagai dasar untuk menjadi pemimpin kelak nantinya.

Dalm modul ini, ada beberapa hal yang sudah kalian pelajari dari isi modul ini diantaranya yakni :

  1. Kerajaan-kerajaan Islam yang berada di wilayah Pulau Jawa diantaranya yakni Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram dan Kerajaan Banten.
  2. Mengetahui awal berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa sampai dengan keruntuhannya.
  3. Mengetahui kehidupan politik, ekonomi dan sosial dari masing-masing kerajaan Islam di Jawa
  4. Mengetahui raja yang membawa puncak kejayaan kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa seperti Sultan Trenggana, Sultan Hadiwijaya, Sultan Agung dan Sultan Ageng Tirtayasa.
  5. Mengetahui sebab-sebab kemunduran kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa.

EVALUASI

Untuk mengukur kemampuan kalian, kerjakanlah soal-soal yang telah disediakan. Kerjakanlah soal dibawah ini secara seksama dan teliti agar kalian dapat memperoleh prestasi yang kalian harapkan secara optimal. Junjunglah sifat Kejujuranmu !

Soal Pilihan Ganda

1. Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa ialah ….

A. Kerajaan Mataram                                C. Kerajaan Demak

B. Kerajaan Banten                                   D. Kerajaan Pajang

2. Raja Demak yang mendapat sebutan “ Sabrang Lor “ adalah raja…

A. Raden Patah                                         C. Sumangsang

B. Pati Unus                                              D. Sultan Trenggono

3. Orang-orang Islam dari Kerajaan manakah yang mendukung berdirinya kerajaan Banten ?

A. Kerajaan Mataram                                C. Kerajaan Samudra Pasai

B. Kerajaan Panjajaran                              D. Kerajaan Aceh

4. Dengan daerah wilayah di pedalaman Kerajaan Demak mengembangkan sektor

A. Sektor Perikanan                                  C. Sektor Maritim

B. Sektor Pariwisata                                 D. Sektor Agraria

5. Kerajaan Banten melakukan ekspansi dan berhasil memperluas wilayahnya ke hampir seluruh Banten pada masa pemerintahan …

A. Sultan Ageng Tirtayasa                        C. Sultan Hasanuddin

B. Maulana Yusuf                                     D. Maulana Muhammad

6. Manakah berikut ini Kerajaan Islam di Indonesia yang menitik beratkan sektor agraria?

A. Kerajaan Demak                                  C. Kerajaan Banten

B. Kerajaan Mataram Islam                      D. Kerajaan Pajang

7. Penyerangan pasukan Demak ke Malaka di bawah pimpinan Adipati Unus bertujuan untuk ….

A. menguasai jalur perdagangan               C. mengusir bangsa Portugis

B. menarik perhatian para pedagang         D. mengembalikan fungsi Malaka

8. Belanda memecah belah Mataram dengan tujuan ….

A. mempermudah pengawasan                 C. melaksanakan politik devide et impera

B. menghindari adanya kerajaan besar     D. menghancurkan kerajaan Mataram

9. Belanda memecah belah Matarm dengan menggunakan politik …

A. Politik Bebas Aktif                              C. Politik Devide Et Impera

B. Politik Pintu Terbuka                           d. Politik Etis

10. Sultan Hadiwijaya kemudian memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan dari Demak A. Pajang                                                  C. Banten

B. Mataram                                               D. Tegal Rejo

11. Pengikut Hadi Wijaya yang sangat berjasa dalam mengalahkan Arya Penangsang adalah Kiyai Ageng Pamanahan. Ia kemudian diberi hadiah daerah …

A. Mataram                                               C. Demak

B. Banten                                                  D. Cirebon

12. Pemimpinnya yang mempunyai sebutan Panembahan Lemah Duwur yang diambil sebagai menantu Sultan Hadiwijaya, sebenarnya adalah Raden …

A. Raden Wijaya                                      C. Raden Patah

B. Raden Pratanu                                      D. Raden Kusuma

13. Sutawijaya sendiri mendirikan Kesultanan Mataram di mana ia sebagai raja pertama bergelar ….

A. Sultan Agung                                      C. Panembahan Pamanahan

B.  Raja Agung                                         D. Panembahan Senopati.

14. Pada awalnya Kerajaan Mataram adalah sebuah daerah kadipaten yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan ….

A. Banten                                                  C. Madura

B. Demak                                                  D. Pajang

15. Sebelum Sultan Agung berkuasa. Sebenarnya tahta Kerajaan Mataram di duduki oleh A. Raden Mas Martapura                              C. Ki Ageng Pemanahan

B. Sutawijaya                                            D. Panembahan Senopati

16. Amangkurart I menjalin hubungan yang sangat erat dengan Belanda dan Belanda diperkenankan untuk mendirikan benteng di Kerajaan Mataram yang mengakibatkan terjadi Pemberontakan diantaranya yaitu …

A. Pemberontakan Trunajaya                    C. Pemberontakan Petani

B. Pemberontakan Buruh                          D. Pemberontakan Kaum Adat

17. Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua wilayah yakni Daerah kesultanan Yogyakarta dan Daerah Kesuhunan Surakarta tercantum dalam perjanjian

A. Perjanjian Ekstradisi                            C. Perjanjian Bongaya

B. Perjanjian Damai                                  D. Perjanjian Giyanti

18. Yang dianggap sebagai peletak dasar berdirinya satu kekuatan politik Islam di Banten adalah …

A. Pangeran Jepara                                   C Sunan Gunung Jati

B. Maulana Yusuf                                     D. Sultan Hasanuddin

19. Kehidupan social kerajaan Banten di bawah pemerintahan Sultan Agrng Tirtayasa meningkat pesat karena ia sangat memperhatikan kehidupang rakyat dan berusaha untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Usaha yang dilakukannya adalah

A. Menerapkan system pemerintahan Demokrasi

B. Penghapusan Pajak tanah

C. Menerapkan system tanah garapan

D. Menerapkan system perdagangan bebas

20. Politik adu-domba (Devide et Impera) yang dilakukan oleh Belanda yakni terjadi antara …. dengan …

A. Sultan Agung dengan Sultan Ageng Tirtayasa

B. Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji

C. Sultan Agung dengan Sultan Haji

D. Raden Wijaya dengan Sultan Haji

Soal Uraian Singkat

  1. Kerajaaan Demak mengalami zaman kejayaan pada masa pemerintahan raja …
  2. Tiga kerajaan Islam yang berada di Pulau Jawa adalah …
  3. Kerajaan Islam di Jawa yang menjadi pusat penyebaran agama islam dan sekaligus sebagai penakluk kekuasaan Hindu Majapahit adalah …
  4. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Kerajaan Banten mengalami masa kejayaan ditandai dengan …
  5. Kehidupan politik Kerajaan Mataram Islam ditandai dengan adanya …
  6. Apakah sebab kemunduran dari kerajaan Demak?
  7. Raja pertama kerajaan Pajang yang kedudukannya disahkan oleh Sunan Giri adalah …
  8. Kerajaan Banten mencapai puncak keemasannya yang ditandai dengan Banten menjadi pusat perdagangan pada masa pemerintahan…
  9. Adanya kekuasaan Belanda di Batavia, menjadi saingan bagi Banten dalam

perdagangan. Persaingan tersebut kemudian berubah menjadi pertentangan politik bagi Raja …

10.  Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh …

Soal Uraian

1. Jelaskan latar belakang berdirinya kerajaan Mataram!

2. Sebutkan tindakan-tindakan Sultan Agung sebagai raja Mataram!

3. Sebutkan sebab-sebab kehancuran dari kerajaan Mataram!

4. Jelaskan tentang proses masuknya Islam di Maluku!

5. Sebutkan usaha-usaha Portugis dalam rangka menguasai perdagangan di Maluku!

Selamat mengerjakan  dan sukses selalu!

BAHAN ACUAN :

Badrika, I Wayan 2006, Sejarah Untuk SMA Kelas XI Program Ilmu Sosial. Jakarta: Erlangga

R. Soekmono. 1985. Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta : Kanisius

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.